Konvergensi Teknologi Yang Semakin Maju
Sabtu, Desember 13, 2008
FENOMENA telepon seluler pintar (smart phone) seperti Nokia 9500 yang diedarkan di pasaran Indonesia pekan lalu memang tidak akan ditemui di negara lain. Harga Nokia 9500 yang melonjak hampir mencapai 50 persen dibandingkan dengan harga resmi memang menjadi sebuah tolok ukur penting, bukan hanya terkait dengan mekanisme permintaan dan suplai, tetapi benar-benar menunjukkan bahwa ponsel pintar di Indonesia memiliki status sendiri di antara penggunanya.
MEMANG menjadi sulit untuk memahami fenomena Nokia 9500 ini, dan menjadi istimewa di antara smart gadget lainnya. Ketika Hewlett Packard meluncurkan produknya, Ipaq 6365 (Kompas, 6/10), fenomena Nokia 9500 ini tidak muncul di kalangan pengguna di Indonesia.
Perangkat teknologi pintar memang sudah lama diyakini memiliki fenomena sendiri di Indonesia. Ambil saja smart phone seperti Nokia 6600 atau yang paling populer dan futuristik buatan Sony Ericsson seri P910i yang memiliki pangsa pasar paling besar di Indonesia daripada di negara lain.
Ada yang menyebutkan fenomena Nokia 9500 ini merupakan cerminan bahwa konsumen Indonesia lebih mudah menyerap teknologi baru. Kompas sendiri berpendapat konsumen Indonesia lebih condong merupakan pengguna simbolis dan status ketimbang memahami sepenuhnya teknologi yang terkandung dalam berbagai smart gadget ini karena memberikan kemudahan dan kenyamanan untuk bekerja dan menikmati pengalaman digital membawa nuansa perubahan dalam cara kita menelepon, mengakses data, mendengarkan musik, menonton video, dan aktivitas multimedia lainnya.
Ada juga yang menyebutkan posisi smart gadget ini akan berbeda satu sama lainnya. Mereka yang berbasis Personal Digital Assistant (PDA) bukan untuk berhadapan dengan ponsel pintar yang sekarang tersebar di pasaran. Atau sebaliknya, ponsel yang sekarang ada di pasaran bukan untuk berhadapan dengan PDA yang terkonvergensi secara utuh dengan perangkat telekomunikasi.
Buat pengguna awam, apalagi konsumen Indonesia, tidak penting di mana posisi masing- masing smart gadget yang ada di pasaran sekarang ini. Dan tampaknya, semakin mahal perangkat teknologi ini, semakin laku di pasaran. Yang menentukan adalah harga (atau murah sekali atau mahal sekali), desain yang menarik untuk mendongkrak status penggunanya, dan kemudahan untuk menggunakannya.
PDA pintar
Pekan ini kembali sebuah smart gadget diperkenalkan, yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari keberhasilan versi sebelumnya. Di antara pengguna PDA, perangkat XDA II buatan O2 memang memiliki penggemar yang merata. Untuk pasaran Indonesia, smart gadget O2 ini memang tidak menjadi perangkat yang fenomenal seperti Nokia seri Communicator.
Namun, dengan penjualan yang mencapai dua ribuan unit setiap bulan untuk XDA II (Kompas, 17/11/2003), O2 termasuk salah satu smart gadget yang sukses di pasaran. Berbeda dengan Nokia Communicator, O2 menjadi fenomenal karena sisi teknologinya dan pengguna "PDA pintar" ini umumnya orang-orang yang memang memaksimalkan fungsi-fungsi yang ada pada perangkat ini.
Perangkat terbaru O2 disebut sebagai XDA IIs ini memiliki beberapa keistimewaan yang tidak ada pada perangkat sebelumnya, bahkan dengan perangkat seperti Ipaq 6365 yang merupakan pesaing sejenis. Dari sisi desain saja, XDA IIs mencerminkan nuansa futuristik sebuah smart gadget dalam arti yang sesungguhnya, "…pintar".
Terbuat dari bahan yang sama dengan seri sebelumnya, XDA IIs berwarna hitam dengan aksen garis abu-abu pada pinggirannya. Menggunakan sistem operasi Windows Mobile 2003 Second Edition, prosesor Intel PXA 263 berkecepatan 400 Mhz yang lebih cepat dari Ipaq 6365, serta memori RAM sebesar 128 MB dan Flash ROM 96 MB, perangkat buatan O2 ini sebagai smart gadget paling powerful yang ada di pasaran sekarang ini.
Ditambah dengan fitur Bluetooth, akses nirkabel WiFi standar 802.11b, kamera digital VGA berwarna, rongga MMC atau SDIO (untuk digunakan perangkat GPS atau lainnya), serta baterai yang bisa diganti berkekuatan 1.490 mAh, O2 terbaru ini menjadi impian para gadgeter yang menggunakan perangkat ini untuk berbagai keperluan aktivitas digitalnya.
Kecepatan komputasi
Perangkat XDA IIs ini menurut rencana pada awal tahun 2005 juga akan dijalankan menggunakan sistem operasi BlackBerry Connect buatan Research In Motion, yang memungkinkan e-mail didorong ke perangkat ini dari server perusahaan atau melalui jasa pelayanan e-mail berbasis web.
Secara teknologi, sebenarnya tidak ada perbedaan antara XDA IIs dan Ipaq 6365 yang menjadi andalan Hewlett Packard meneruskan proyek perangkat Jornada 928 (Kompas, 24/1/2003) yang tidak pernah sukses di pasaran.
Perbedaan pokok terletak pada keyboard yang berada di balik layar XDA IIs, sedangkan pada Ipaq 6365 keyboard merupakan perangkat tambahan yang harus dipasang pada bagian bawah.
Mengenai kinerja di antara keduanya, jelas keunggulan terletak pada kecepatan komputasi yang dimiliki XDA IIs yang menggunakan prosesor Xscale buatan Intel (Ipaq 6365 menggunakan prosesor Texas Instrument dengan kecepatan yang lebih rendah).
Adapun mengenai kemampuan Bluetooth untuk kedua "PDA pintar" ini tidak ada yang berbeda dan setara satu sama lain. Yang jadi perhatian Kompas adalah kemampuan WiFi yang sama-sama menggunakan standar 802.11b dengan kecepatan maksimum 11 mbps.
Perangkat WiFi pada Ipaq 6365 lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan hotspot generasi baru standar 802.11g, XDA IIs menghadapi kesulitan terkoneksi pada merek-merek access point tertentu. Namun, di sisi lain, XDA IIs lebih cepat memproses aplikasi, terutama pada koneksi peer-to-peer seperti menggunakan Skype untuk melakukan pembicaraan melalui jaringan internet. Ipaq 6365 menjadi lambat untuk menggunakan aplikasi sejenis dengan kualitas suara yang terputus-putus.
O... O... O2
Mereka yang melihat prototipe O2 XDA IIs memiliki kekaguman sendiri dan selalu bergumam, "O... keren, dan O... pasti mahal." Dibandingkan dengan Nokia 9500, XDA IIs lebih murah dan memiliki pendekatan yang berbeda.
Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah penggunaan keyboard (mungkin menjadi menarik kalau ada tombol yang apabila ditekan akan membuka sendiri) bisa menjadi maksimal. Pada Nokia 9500, keyboard jelas maksimal karena tidak memiliki monitor sentuh seperti pada perangkat O2.
Untuk mengirim SMS menggunakan satu jempol memang menyulitkan karena posisi huruf-huruf yang terpampang mengikuti sistem QWERTY seperti pada keyboard komputer. Mereka yang terbiasa dengan PDA akan condong menggunakan stylus untuk menggunakan XDA IIs ini.
Terlepas dari masalah ini, XDA IIs adalah PDA paling pintar yang sekarang ada di pasaran. Untuk melihat e-mail, kita bisa menggunakan akses GPRS, sedangkan untuk mengambil data dalam ukuran besar dan format apa pun bisa menggunakan WiFi yang lebih cepat dan bisa langsung terbuka pada perangkat XDA IIs ini.
Kalau melihat roadmap produk yang dikembangkan O2, bisa jadi smart gadget paling pintar dan paling populer ini akan dikuasai mereka. Ada O2 Mini yang menurut rencana diluncurkan akhir tahun ini. Ada juga O2 Smartphone terbaru dengan sentuhan seperti ponsel paling mahal merek Vertu yang menjadi bagian dari produk Nokia yang lain.
Bagi kita menjadi pertanyaan apakah sekarang kita sedang menuju pada keadaan ponsel menggantikan PDA atau sebaliknya. Namun, satu hal terbukti, konvergensi teknologi adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan XDA IIs ini mencerminkan konvergensi yang seutuhnya untuk memudahkan aktivitas digital kita selama ini. Dan masih banyak yang disiapkan O2.
sumber di sini
MEMANG menjadi sulit untuk memahami fenomena Nokia 9500 ini, dan menjadi istimewa di antara smart gadget lainnya. Ketika Hewlett Packard meluncurkan produknya, Ipaq 6365 (Kompas, 6/10), fenomena Nokia 9500 ini tidak muncul di kalangan pengguna di Indonesia.
Perangkat teknologi pintar memang sudah lama diyakini memiliki fenomena sendiri di Indonesia. Ambil saja smart phone seperti Nokia 6600 atau yang paling populer dan futuristik buatan Sony Ericsson seri P910i yang memiliki pangsa pasar paling besar di Indonesia daripada di negara lain.
Ada yang menyebutkan fenomena Nokia 9500 ini merupakan cerminan bahwa konsumen Indonesia lebih mudah menyerap teknologi baru. Kompas sendiri berpendapat konsumen Indonesia lebih condong merupakan pengguna simbolis dan status ketimbang memahami sepenuhnya teknologi yang terkandung dalam berbagai smart gadget ini karena memberikan kemudahan dan kenyamanan untuk bekerja dan menikmati pengalaman digital membawa nuansa perubahan dalam cara kita menelepon, mengakses data, mendengarkan musik, menonton video, dan aktivitas multimedia lainnya.
Ada juga yang menyebutkan posisi smart gadget ini akan berbeda satu sama lainnya. Mereka yang berbasis Personal Digital Assistant (PDA) bukan untuk berhadapan dengan ponsel pintar yang sekarang tersebar di pasaran. Atau sebaliknya, ponsel yang sekarang ada di pasaran bukan untuk berhadapan dengan PDA yang terkonvergensi secara utuh dengan perangkat telekomunikasi.
Buat pengguna awam, apalagi konsumen Indonesia, tidak penting di mana posisi masing- masing smart gadget yang ada di pasaran sekarang ini. Dan tampaknya, semakin mahal perangkat teknologi ini, semakin laku di pasaran. Yang menentukan adalah harga (atau murah sekali atau mahal sekali), desain yang menarik untuk mendongkrak status penggunanya, dan kemudahan untuk menggunakannya.
PDA pintar
Pekan ini kembali sebuah smart gadget diperkenalkan, yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari keberhasilan versi sebelumnya. Di antara pengguna PDA, perangkat XDA II buatan O2 memang memiliki penggemar yang merata. Untuk pasaran Indonesia, smart gadget O2 ini memang tidak menjadi perangkat yang fenomenal seperti Nokia seri Communicator.
Namun, dengan penjualan yang mencapai dua ribuan unit setiap bulan untuk XDA II (Kompas, 17/11/2003), O2 termasuk salah satu smart gadget yang sukses di pasaran. Berbeda dengan Nokia Communicator, O2 menjadi fenomenal karena sisi teknologinya dan pengguna "PDA pintar" ini umumnya orang-orang yang memang memaksimalkan fungsi-fungsi yang ada pada perangkat ini.
Perangkat terbaru O2 disebut sebagai XDA IIs ini memiliki beberapa keistimewaan yang tidak ada pada perangkat sebelumnya, bahkan dengan perangkat seperti Ipaq 6365 yang merupakan pesaing sejenis. Dari sisi desain saja, XDA IIs mencerminkan nuansa futuristik sebuah smart gadget dalam arti yang sesungguhnya, "…pintar".
Terbuat dari bahan yang sama dengan seri sebelumnya, XDA IIs berwarna hitam dengan aksen garis abu-abu pada pinggirannya. Menggunakan sistem operasi Windows Mobile 2003 Second Edition, prosesor Intel PXA 263 berkecepatan 400 Mhz yang lebih cepat dari Ipaq 6365, serta memori RAM sebesar 128 MB dan Flash ROM 96 MB, perangkat buatan O2 ini sebagai smart gadget paling powerful yang ada di pasaran sekarang ini.
Ditambah dengan fitur Bluetooth, akses nirkabel WiFi standar 802.11b, kamera digital VGA berwarna, rongga MMC atau SDIO (untuk digunakan perangkat GPS atau lainnya), serta baterai yang bisa diganti berkekuatan 1.490 mAh, O2 terbaru ini menjadi impian para gadgeter yang menggunakan perangkat ini untuk berbagai keperluan aktivitas digitalnya.
Kecepatan komputasi
Perangkat XDA IIs ini menurut rencana pada awal tahun 2005 juga akan dijalankan menggunakan sistem operasi BlackBerry Connect buatan Research In Motion, yang memungkinkan e-mail didorong ke perangkat ini dari server perusahaan atau melalui jasa pelayanan e-mail berbasis web.
Secara teknologi, sebenarnya tidak ada perbedaan antara XDA IIs dan Ipaq 6365 yang menjadi andalan Hewlett Packard meneruskan proyek perangkat Jornada 928 (Kompas, 24/1/2003) yang tidak pernah sukses di pasaran.
Perbedaan pokok terletak pada keyboard yang berada di balik layar XDA IIs, sedangkan pada Ipaq 6365 keyboard merupakan perangkat tambahan yang harus dipasang pada bagian bawah.
Mengenai kinerja di antara keduanya, jelas keunggulan terletak pada kecepatan komputasi yang dimiliki XDA IIs yang menggunakan prosesor Xscale buatan Intel (Ipaq 6365 menggunakan prosesor Texas Instrument dengan kecepatan yang lebih rendah).
Adapun mengenai kemampuan Bluetooth untuk kedua "PDA pintar" ini tidak ada yang berbeda dan setara satu sama lain. Yang jadi perhatian Kompas adalah kemampuan WiFi yang sama-sama menggunakan standar 802.11b dengan kecepatan maksimum 11 mbps.
Perangkat WiFi pada Ipaq 6365 lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan hotspot generasi baru standar 802.11g, XDA IIs menghadapi kesulitan terkoneksi pada merek-merek access point tertentu. Namun, di sisi lain, XDA IIs lebih cepat memproses aplikasi, terutama pada koneksi peer-to-peer seperti menggunakan Skype untuk melakukan pembicaraan melalui jaringan internet. Ipaq 6365 menjadi lambat untuk menggunakan aplikasi sejenis dengan kualitas suara yang terputus-putus.
O... O... O2
Mereka yang melihat prototipe O2 XDA IIs memiliki kekaguman sendiri dan selalu bergumam, "O... keren, dan O... pasti mahal." Dibandingkan dengan Nokia 9500, XDA IIs lebih murah dan memiliki pendekatan yang berbeda.
Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah penggunaan keyboard (mungkin menjadi menarik kalau ada tombol yang apabila ditekan akan membuka sendiri) bisa menjadi maksimal. Pada Nokia 9500, keyboard jelas maksimal karena tidak memiliki monitor sentuh seperti pada perangkat O2.
Untuk mengirim SMS menggunakan satu jempol memang menyulitkan karena posisi huruf-huruf yang terpampang mengikuti sistem QWERTY seperti pada keyboard komputer. Mereka yang terbiasa dengan PDA akan condong menggunakan stylus untuk menggunakan XDA IIs ini.
Terlepas dari masalah ini, XDA IIs adalah PDA paling pintar yang sekarang ada di pasaran. Untuk melihat e-mail, kita bisa menggunakan akses GPRS, sedangkan untuk mengambil data dalam ukuran besar dan format apa pun bisa menggunakan WiFi yang lebih cepat dan bisa langsung terbuka pada perangkat XDA IIs ini.
Kalau melihat roadmap produk yang dikembangkan O2, bisa jadi smart gadget paling pintar dan paling populer ini akan dikuasai mereka. Ada O2 Mini yang menurut rencana diluncurkan akhir tahun ini. Ada juga O2 Smartphone terbaru dengan sentuhan seperti ponsel paling mahal merek Vertu yang menjadi bagian dari produk Nokia yang lain.
Bagi kita menjadi pertanyaan apakah sekarang kita sedang menuju pada keadaan ponsel menggantikan PDA atau sebaliknya. Namun, satu hal terbukti, konvergensi teknologi adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan XDA IIs ini mencerminkan konvergensi yang seutuhnya untuk memudahkan aktivitas digital kita selama ini. Dan masih banyak yang disiapkan O2.
sumber di sini

0 Comments:
Posting Komentar
<< Home