<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5271114412037224193?origin\x3dhttp://diwahyu.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

TV Kabel dengan Fiber-Optic = Internet berkecepatan tinggi

Rabu, November 05, 2008
Dunia komunikasi telah memasuki era yang baru. Sebuah penemuan yang evolusioner terjadi pada tahun 1970-an. Kini, pengimplementasiannya telah diterapkan di berbagai negara dan berbagai bidang. Penemuan itu dinamakan Fiber Optic.

Sistem Fiber-Optic, biasa disingkat dengan FO, merupakan kabel yang terbuat dari kaca (ada pula yang dari plastik) yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser, karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit.

Kecepatan transmisi yang sangat tinggi menjadikan kabel FO cocok digunakan sebagai saluran komunikasi. Dalam sistem transmisi Fiber Optic (FO), cahaya lampu dan sinyal optik, “bertugas” membawa informasi, baik dalam bentuk digital maupun analog. Dalam pengoperasiannya, cahaya itu “diikat” dalam serat (fiber).

Proses saat cahaya melewati serat dinamakan total internal process. Untuk menuju serat, cahaya melewati celah antara cladding dan core. Saat cahaya mencapai ujung baris, dia akan diterima oleh receiver yang peka dengan cahaya. Dan setelah melalui semua tahapan itu, sinyal yang sebenarnya akan diproduksi.

Fiber sendiri terdiri dari dua bagian, core dan cladding. Cladding adalah selubung dari core. Cladding mempunyai indeks bias yang lebih rendah dari pada core, sehingga cahaya yang mengarah keluar dari core akan dipantulkan kembali kedalam core.Efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian gelas yang menyusunnya. Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik.

Penggunaan laser, dan bukan Light Emittting Diode (LED), sebagai sumber cahaya karena bentuknya yang lebih kecil, lebih bertenaga, dan jangkauan sinarnya lebih panjang.

Serat optik dapat dibagi menjadi 3 jenis: Single mode: serat optik dengan core yang sangat kecil, sekitar 8 mikro meter. Besar diameternya mendekati panjang gelombang, sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya tidak terpantul-pantul ke
dinding cladding. Kabel single mode dapat menjangkau jarak yang lebih jauh. Ia hanya mengirim satu sinyal pada waktu yang sama. Multi mode step index: serat optik dengan diameter core yang sedikit lebih besar dibanding single mode, sekitar 10 mikro meter. Ukuran tersebut membuat laser di dalamnya terpantul di dinding cladding, yang dapat
menyebabkan berkurangnya bandwidth dari serat optik jenis ini. Kabel jenis ini dapat megirimkan data yang berbeda pada saat yang bersamaan. Namun, jika kabel single mode dapat menjangkau ratusan kilometer, kabel multi mode hanya mampu menjangkau kurang dari 550 meter.Multimode grade index: serat optik dengan diameter core yang
terbesar, dibanding dua jenis serat optik lainnya. Jenis yang satu ini tidak terlalu banyak digunakan.

Mengapa penemuan kabel FO, dapat dibilang, merupakan hal yang revolusioner di bidang telekomunikasi? Di bawah ini, beberapa keuntungan menggunakan FO dibanding kabel tembaga, antara lain: Harga kabel FO memang lebih mahal. Namun, untuk pemakaian yang sangat panjang, ia menjadi lebih murah dibanding kabel tembaga. Kabel FO sangat menghemat ruang, karena wujudnya yang begitu tipis. Cahaya (sebagai sarana pembawa informasi dalam sistem FO) dapat membawa informasi dalam jumlah besar. Ia dapat mengangkut hingga hitungan gigabit per detik. Contoh, kabel fiber berukuran 0.75 inci memiliki kecepatan yang sama dengan 20 kabel tembaga. Kabel FO tidak terpengaruh dengan gelombang elektromagnetik dan sinyal radio. Sehingga, kualitas data yang dihasilkan lebih jernih. Kabel FO menawarkan tingkat keamanan data yang lebih tinggi dibanding sistem konvensional. Sinyal sistem ini tidak dapat diambil alat lain,
kecuali alat yang telah disetujui bersama. Tingkat kehilangan sinyal lebih kecil daripada kabel tembaga. FO memungkinkan pengiriman informasi dalam jarak jauh, sekalipun. Tidak mudah terbakar, karena tidak menggunakan sinyal elektronik seperti kabel tembaga.

Setiap perkembangan dari teknologi, pasti memiliki kekurangan masing-masing.
Ada beberapa faktor yang menghambat efektifitas kerja FO, antara lain: Seperti saluran komunikasi lainnya, ada saat dimana sinyal yang dihasilkan melemah. Misalnya, dispersion yang dapat mengurangi kapasitas informasi yang diangkut. Serat lebih susah untuk disambung dibandingkan saluran biasa. Ujung sambungan serat harus dicocokkan
dengan akurat, untuk menghasilkan saluran yang jernih. Sistem FO memakan biaya yang lebih besar.

Pemanfaatan Kabel FO dalam Kehidupan Sehari-Hari
Kabel FO merupakan medium yang banyak dilirik industri video. Desainnya yang
ringan ditambah dengan tranmisinya yang cepat menjadikan kabel FO sebagai penemuan yang berharga. Untuk industri pertelevisian, kapasitas pengiriman data yang besar menjadi nilai plus bagi kabel FO. Selain itu, penemuan kabel FO menjawab kesulitan proses digitalisasi video yang membutuhkan jutaan bit per detik, yang selama ini terjadi.

Kabel FO juga telah dimanfaatkan untuk menghasilkan LAN berkapasitas tinggi. Perusahaan telepon juga telah menaruh minatnya pada kabel ini. Perusahaan cable bahkan mulai beralih dari penggunaan kabel tembaga menjadi hybrid system
(campuran tembaga dengan FO), atau sistem FO sepenuhnya. Pemanfaatan kabel FO yang kita tahu selama ini hanya sebatas di darat, ternyata kabel FO juga dapat digunakan melewati laut. AT&T merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan sistem FO bawah laut antarbenua yang berjarak hingga 3000 mil. Proyek pertama AT&T yang
dinamakan TAT8 telah diuji coba sejak awal tahun 1980 untuk benua Amerika dan Eropa; dan hasilnya menunjukkan bahwa sistem FO bawah laut bisa bertahan hingga 20 tahun.

Saluran FO dan SatelitMenggunakan kabel bermil-mil jauhnya yang ditanam di dalam laut mungkin terdengar kuno. Orang-orang akan berpikir mengapa tidak menggunakan
satelit? Satelit memiliki beberapa perbedaan dibanding sistem FO, seperti: satelit perlu beradaptasi dengan keadaan atmosfer dan waktu pengiriman sinyal yang bergantung pada keramaian satelit. Sesungguhnya, sistem FO memiliki keunggulan utama dibanding satelit, yaitu: tingkat keamanan yang ditawarkan FO lebih tinggi. Sistem satelit
memungkinkan komputer yang tidak terdaftar dapat menerima (atau mengambil) sinyal yang dikirimkan. Perbedaan lain antara keduanya ialah, sistem satelit juga menganut prinsip operasi point-to-multipoint; sedangkan sistem FO menganut
prinsip pe-relay-an point-to-point (misal, dari suatu kota ke suatu kota lain). Aplikasi LainnyaPenggunaan teknologi FO tidak hanya dimanfaatkan pada bidang telekomunikasi, ia juga dapat membantu bidang medis, seperti operasi laser.

sekarang FO banyak digunakan sebagai sambungan Internet dan TV Kabel.

dan kebanyakan internet di Indonesia yang berkecepatan tinggi sudah menggunakan FO yang memanfaatkan jaringan Tv Kabel. karena TV Kabel koneksinya sangat tinggi. Bandwidth yang dikirim lewat jaringan TV kabel dibagi menjadi banyak kanal (channel). Lebar tiap kanal dibuat sebesar 6 MHz. Hal ini dikarenakan signal TV menggunakan alokasi frekuensi 6Mhz (standard NTSC) atau 7 atau 8Mhz (standard PAL), untuk disesuaikan dengan bandwidth video standar yang sebesar 4,2 MHz, dan bandwidth HDTV (high definition TV) yang telah dikompresi menjadi 6 MHz. Biasanya tiap kanal digunakan untuk mengirim satu siaran., sehingga dalam satu kabel dapat disalurkan berpuluh siaran TV. Umumnya spektrum frekuensi yang digunakan untuk signal TV berkisar antara 111Mhz - 450 Mhz, padahal kabel koaksial ini mampu membawa frekuensi hingga 1000 Mhz. Jika awalnya semua kanal dipakai untuk mengirim siaran televisi, kini beberapa kanal digunakan untuk akses Internet yaitu menggunakan kanal pada frekuensi yang tidak terpakai yang kemudian digunakan untuk membawa signal data, dan biasanya dibawa pada frekuensi 550 Mhz ke atas.

Untuk transmisi data internet tersebut, baik upstream maupun downstream, satu kanal digunakan bersama-sama oleh seluruh pengguna layanan. Untuk itu bandwidth upstream yang sempit itu dibagi dalam satuan waktu, yaitu dalam milisecond (1/1000 detik), yang mana dalam satuan waktu tersebut seorang pelanggan dapat melakukan sekali “semprot” data ke Internet.

Agar pelanggannya dapat mengakses Internet, operator TV kabel punya dua pilihan. Pilihan pertama adalah membangun dan mengoperasikan sendiri layanan Internetnya. Artinya, si operator berfungsi sebagai broadband server. Ia dapat menyediakan layanan Internet standar, seperti surfing website, e-mail box, dan chatting. Atau layanan lain seperti menyediakan space untuk menyimpan file-file data, audio, dan video milik pelanggan. Dengan cara ini pelanggan tidak perlu lagi berlangganan ISP (Internet Service Provider) lain. Artinya, ia pun tidak punya pilihan ISP lain selain operator TV kabel yang bersangkutan. Pilihan kedua, operator TV kabel bekerja sama dengan ISP lain. Kerja sama ini dalam bentuk lisensi pengoperasian ISP dan bandwidth. Operator dapat bekerja sama dengan satu atau lebih ISP sehingga pelanggan lebih banyak punya pilihan walaupun tetap terbatas. Di Indonesia, dari tiga operator TV kabel, tampaknya baru satu operator yang telah memberikan layanan Internet dalam bentuk kerja sama dengan dua ISP.

sumber diambil dari sini dan sini



0 Comments:

Posting Komentar

<< Home


About me

I'm dewe From Indonesia
[...]

Web This Blog

Archives

Previous Posts

wanna buzz me..??!!



ShoutBox


ShoutMix chat widget

Powered By

Powered by Blogger